Tentu, Aku Pernah Merasa Terasing

“Sas, kamu pernah merasa asing gitu gak?”

Sebuah pesan whatsapp yang saya terima satu bulan lalu dari sahabat saya yang sekarang ada di luar daerah. Sudah 4 tahun sejak lulus SMP saya berpisah dengan nya hingga sekarang belum pernah ketemu lagi, komunikasi pun jarang jadi saya tidak terlalu tahu bagaimana kisah nya saat ini.

Tapi satu yang saya tahu pasti bahwa dia telah berhijrah ;’)

Saya sangat senang ketika dia mengirim pesan tersebut dan langsung saya balas,

“Pernah banget cah”

“Pas pakai jilbab syar’i maksud aku sas” balasnya lagi

“Iya pasti itu mah” jawab saya lagi

Dari situ saya mengetahui bahwa dia pasti sedang dalam ‘fase merasa terasing’ dari perjalanan hijrah nya. Itu wajar, karena saya pun merasakan hal yang sama dulu bahkan sampai saat ini kadang-kadang masih juga.

.

.

Memutuskan memakai jilbab syar’i saat itu (SMA) bukan masalah untuk saya karena telah melihat ibu saya yang lebih dulu memulai dan rasanya beliau tidak ada masalah, terlebih saya telah mengetahui apa hukum nya.

Hijrah, sebuah perjalanan hidup menuju perubahan yang lebih baik. Alhamdulillah hidayah datang kepada saya untuk segera berhijrah di umur yang masih terbilang sangat muda saat itu, 16 tahun.

Asing banget, dulu saya selalu merasa aneh ketika berada di tengah-tengah kumpulan teman-teman. Banyak mata-mata yang menatap aneh seolah ingin mengatakan sesuatu yang saya tidak mau mendengarnya.

Ada yang memuji perubahan saya tapi lebih banyak yang merasa aneh mungkin. Saya sering mendapat respon semacam ini,

“Gak gerah apa pake nya sepanjang itu?”

“Ribet gak?”

“Kayak kerudung ibu-ibu”

“Bu hajiiii”

Dan yang paling nge-jleb itu waktu teman saya bilang,

“Kamu harus pake kerudung yang modis sas, biar orang gak bosen tau litanya, besok deh kita dandanin yuk” 😥

Hmmm oke baiklah, saat itu saya lagi baper-baper nya setiap ada orang yang banyak mengomentari soal jilbab ini. Dulu saya sering ngedumel curhat dengan ibu saya bahkan secara tidak sengaja sempat meneteskan air mata haha ini serius.

Puncak ke baperan saya ada pada kejadian saat pertama saya menginjakkan kaki di kampus. Saat itu saya dan teman-teman baru ingin makan di kantin kampus dan kami duduk bersebelahan dengan dua orang lain. Dari awal saya sudah merasa ada yang aneh tapi saya hiraukan dan berlanjut dengan makan siang bareng saat itu.

Tapi, keanehan saya akhirnya terbukti. Ketika saya berdiri ingin beranjak dari kantin itu dua orang yang tadi di sebelah saya berbisik-bisik yang bisik-bisik nya bisa terdengar jelas oleh saya,

“Eh, lihat kerudungnya deh. Kocak banget kaya gorden yaa haha”

Astaghfirullah, akhirnya saya pulang dengan keadaan BAPER maksimal.

Apa yang salah sih?

Bukan kah dulu istri-istri Rasulullah salallahu’alaihi wassalam langsung mengambil gorden-gorden rumah nya sebagai hijab ketika perintah menutup aurat turun dari Allah ta’ala?

Oke, berarti tidak ada yang salah dengan saya. Maklum, perempuan kadang suka baper berlebihan hehe.

.

.

Sekarang, saya telah menyadari bahwa hal-hal seperti itu tidak seharusnya dibawa perasaan terlalu dalam. Karena mau seperti apapun diri kita pasti akan selalu ada orang-orang yang tidak suka lalu membicarakan, pasti.

Justru karena hal-hal itu lah harusnya membuat semangat berdakwah saya semakin tinggi.

Nah, itulah dimana saya merasa sangat terasing dan mungkin saat ini sahabat saya yang sedang mengalami itu.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

 

Beruntung? MaasyaaAllah..

Sungguh hadist ini adalah kabar gembira untuk saya ketika itu. Seketika saya merasa pede kembali. Bayang kan saja Rasulullah yang bersabda langsung bahwa beruntunglah orang-orang yang asing.

.

.

Jadi, saran saya untuk kamu yang sering merasakan baper-baper seperti cerita saya tadi coba tanyakan kembali pada diri,

“Aku berhijrah karena Allah atau karena manusia? Aku mengharapkan ridho Allah atau ridho manusia?”

Jika jawaban kamu karena Allah ta’ala maka luruskan dan yakin kan kembali niat kamu itu, hiraukan saja penilaian manusia. Kalau bisa ajak juga mereka yang sering menilai kamu aneh agar sama-sama meniti jalan perubahan karena Allah, karena ingin melihat wajah Allah kelak.

 

Alhamdulillah ‘ala kulli haal..

Semoga bermanfaat, don’t be a baper people hehehe. Semangat!

#30DWC hari ke-25

Advertisements

3 thoughts on “Tentu, Aku Pernah Merasa Terasing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s